Rabu, 09 Desember 2009

MY POEM

Indah senyumnya selalu merasuk dalam anganku,khayalku,dan mimpiku
Sinar wajahnya seakan berkata kaulah yang tercinta
Namun bukan seperti itu,termaksud dalam ungkap titahnya

Sesaat ucapnya melengos “selalu”
Bahkan ‘selamanya”
Hingga tak ada cinta tanpa mempunyai niat memiliki seutuhnya

Kebutuhan hati dalam tingkatan primer
Memaksa cinta menduduki tingkat pertama dalam hidupku
Dan terasa amat nyata ketika ku mulai merangkai sapanya
Yang selalu menemaniku kala niat membutuhkan muncul

Suatu ketika ku bergurau jikalau cinta ku itu sekokoh gunung
Dan bertanya “apakah cintamu melebihi kokohnya gunung yang kumiliki in?”

Terjawab sudah ketika senyumnya mulai hilang
Bersama terbangnya bayang abadinya berikut abu yang suci
Dan kita yang bahagia dalam cinta
Cinta dan kita yang selalu fana
Fana akan segala rasa yang terungkap
Terungkapnya janji-janjidi bawah relung cahaya kebahagiaan

Seiring dengan alur perasaan yang diinginkan
Senada dengan angin yang membawa jauh janji-janji itu
Sejalan dengan berjalannya waktu
Dan seperjuangan dalam menjaga cinta berliput mimpi

Hinakah aku saat bertanya kuatkah cintanya?
Saat yang kulihat terjawab dengan hamparan tanah persegi panjang
Dengan wewangian bunga yang berseliweran
Dan sebuah batu persegi beraksara namamu

Dan yang kucinta selalu ada dihadapanku
Memang ada didepanku
Dalam wujudnya yang tak sempurnanya itu
Terkadang dia datang menghadiahkan nyanyian cintanya untukku
Dan sebuah nasehat akan menyuruhku untuk selalu menjaga rasa itu selamanya
Hingga suatu saat kita bertemu di tempat yang benar-benar maha sempurna dalam memadu kasih
Di singgasana surga dan permadani akhirat nun kekal abadi

MY POEM

Perasaan ingin merenung mulai menghujani pikiranku
Yang selalu memikirkan dirinya
Yang jelas-jelas sudah tersabotase dengan cinta baru

Telah lama ku menyimpan,menyimpan,dan menyimpan
Memendam,memendam,dan memendam
Rasa cinta yang masih dan selalu dan selamanya
Tersusun rapi dan pekat di lubuk hatiku

Rasa ketertarikan ini sudah lama memeras kesabaranku
Amat ingin ku menghampirinya
Sangat sekali ku ingin membuatnya menoleh lagi
Namun ku sudah tak punya cara-cara jitu yang membuat dia seutuhnya mencintai tulusku

Sudah tak akan ada lagi jenis spesies seperti dirinya
Aku tahu itu!!
Karena dirinya hanyalah satu dari kekasih hatiku di dunia
Bukan sang kekasih diriku…

kini hati ini mulai merasa ingin mengorbankan segalanya untuk seseorang lagi
dan lagi-lagi kekasih hatiku…
bukan kekasih diriku

MY POEM

Dimanja akan kata manis yang terbilang persetan untuk ukuran yang menyuapi terus-menerus
Dengan hanya melihat jawaban atas hasil di akhir cerita hidupku
Semua yang terbilang indah mulai menggelantungi rasa pahit di tiap ku menghela nafas
Hujan mulai menetesi wajahku yang menyamarkan hembusan air mata yang mulai berjatuhan
Yang mulai turun dari perasaan yang kesekian kali meluap-luap seperti luapan kemarahan gunung berapi

Diriku yang berpikir bahwa sebenarnya kita memotong sejarah kehidupan nanti
Hanya dengan sekedar tak mencintai siapapun
Tak ingin menghargai siapapun
Tak ingin menolong siapapun
Tak ingin memandang keadaan siapapun

Entah sejak kapan ku memulai tuk menutup rapat mataku juga hatiku
Terhadap ketiadagunaan sikap dan tindak baik diriku
Terhadap semua yang telah kuberikan dengan genggaman tangan yang terkepal tulus

Karena semua yang kuperlihatkan,yang telah kuharuskan,dan yang kukorbankan
Karena memang tak ada orang perorangan yang melirik langkah hidupku
Karena semua tak menghormati jalan yang ingin kutempuh dan menyupport
Karena memang sosokku yang tak pernah dilihat kedua mata maupun satu mata dan mata tertutup

Semua menganggap segala tentangku salah
Dari mulai pendapatku,masalah yang sedang kutangisi,cara hidupku,segala yang kupahami,prinsip-prinsipku,hingga sifatku yang memang begini adanya
Semua menilaiku sebuah kesalahan yang berukuran tak kecil
Membuatku merasa terkucilkan bahkan seperti membunuh rasa percaya diri yang telah lama kubangun

MY POEM

Tergores tinta merah dengan maksud hati yang marah
Tak akan ada sebuah tanya lagi akan perubahanmu
Mimpi-mimpi yang kubiarkan berdengung
Berikut janji-janji yang kubiarkan beralasan

Dengan tema cinta dan penghianatan
Dengan latar cinta dan kepedihan
Dengan pemeran cinta dan pengorbanan
Serta dengan judul cinta matiku

Entah apakah cintaku cinta mati atau bukan
Tapi satu hal yang pasti aku selalu membencimu
Meski rasa cinta sudah memberontak keluar dari selah-selah rasa simpati

Bagai tinta merah ini menjadi tanya-tanyamu
Dan akan ku persembahkan jawaban-jawaban itu

Bahwasanya aku berbohong dan berasa munafik kalau aku mengatakan
Aku membencimu diliputi rasa ingin membunuhmu
Aku tak pernah mencintaimu beserta rasa mendengki
Aku tak pernah menyayangimu meski ku tahu!!
Wajah ini terlihat lebih menyakitkan jika kau ingin lebih menelusurinya
Jauh di dalam hatiku ini berniat untuk berbohong selamanya
Mengingkar dan mendusta untuk selamanya
Dengan tujuan yang tak lain agar kau semakin membenciku

Dikala melihatku
Menengokiku
Memandangku
Dikala dirimu semakin larut akan rasa benci yang mengap-ngap keluar dari ucap kata
Semakin ingin pergi dariku
Dan tak akan pernah bertemu selamanya

Selasa, 08 Desember 2009

MY POEM

Indah senyumnya selalu merasuk dalam anganku,khayalku,dan mimpiku
Sinar wajahnya seakan berkata kaulah yang ku cinta
Namun bukan yang seperti itu termaksud ungkap titahnya

sesaat ucapnya "selalu" bahkan "selamanya"
Tak ada cinta tanpa niat memiliki
Hingga kurasakan ingin cintanya seutuhnya

Kebutuhan hati dalam tingkatan primer
Memaksa cinta menduduki tingkat pertama
Dan terasa amat nyata ketika ku merangkai sapanya
Yang selalu menemaniku kala niat membutuhkan mulai muncul

Ku memberitahukan bahwa cintaku sekokoh gunung
Dan bertanya "Apakah cintamu melebihi kokohnya gunung?"

Terjawab sudah ketika senyumnya telah hilang tuk selamanya
Wajahnya telah menjadi bayang abu yang beterbangan dan cintanya memang melebihi itu semua
Cintanya melebihi nyawanya
Dan kasih tulusnya tidak setara dengan diriku yang selalu menjaga cintanya itu

Kita yang bahagia dalam fana
Cinta kita yang fana
Fana akan segala rasa yang terungkap
Terungkapnya janji-janji di bawah relung purnama

Seiring dengan alur perasaan yang diingini
Senada dengan angin yang membawa jauh janji-janji itu
Sejalan dengan berjalannya waktu
Dan seperjuangan dalam menjaga cinta berliput mimpi

Hinakah aku ketika bertanya kuatkah cintamu?
Dan yang kucinta telah pergi membawa kasih cintanya terhadapku
Dan terkadang dia datang dalam mimpiku dan berbisik,
"Aku cinta padamu,dan kupertanggung jawabkan semua rasa ini.Teruntuk janjiku akan cintaku yang baka"

MY POEM

Saat ku mulai menjajahkan tubuhku dengan kenangan bersamamu
Bagai racun yang menyebar ke seluruh jiwa
Tak ada kata pemberhentian untuk menjalar ke seluruh raga

Saat ku mulai merasa mati akan rasa ku terhadap cinta lain
Dan menyadari bahwa cintaku hanya untukmu
Tak akan ada persembahan cinta lain selain untukmu

Aku percaya cinta ku ini akan pudar beriring karang yang terkikis
Aku percaya rasa ini dialiri oleh takdir Yang Kuasa
Aku percaya kau dan aku tak pernah menyesali cinta yang pernah terjalin
Aku percaya perasaanmu sama besar seperti perasaanku
Aku percaya dulu kita pernah benar_benar tak bisa menahan cinta yang menggebu
Aku percaya kita berdua pernah benar_benar mabuk akan cinta

Mencoba bertanya pada mereka…
Mengapa ini terjadi?
Kenapa mereka tak mendukung cinta dia dan aku?
Apa alasan aku tak boleh berbagi cinta dengannya yang kucinta?
Dimana letak nurani mereka yang tak pernah merasakan cinta?
Berapa tetes air mataku yang habis menyisir hari_hari?
Siapa lagi yang tak mau mengerti bahwa dia orang yang benar_benar sempurna untuk kubagi cintaku?
Bagaimana aku harus mulai menata hidup jika mereka telah melerai diriku yang sedang benar_benar mencintai?
Kapan ?
Kapan ?
mereka benar_benar mengerti kalau yang cinta aku hanya dia…
Yang aku cinta hanya dia…


Sekarang apa?
Mereka terlihat berpesta pora ketika melihat dia sejalan dengan hati yang lain…Bukan aku!!!!

MY POEM

Mimpi yang tak pernah bertengok wajah dengan malamku
Sekarang berubah menjadi angan yang terbang bersama angin
Yang semakin berdesir di sekujur sekitar ruang kamarku

Terdengar bisikan yang menyapa “Meraung-raunglah hei kau manusia yang diliputi rasa cinta akan cinta yang telah membunuh rasamu.Berterima kasihlah kepadaku karena mimpi indahmu kini tak akan pernah kau dapati” ucap setan malam.
Teringat akan perginya sang kekasih hati dan bisunya hati ini saat dia melangkah pergi
Menangisnya kenangan-kenangan indah akan perginya sang pemain cinta

Kisruhnya hati ini karena gelisah akan kabar burung yang akan dating
Ketertimpangan rasa yang bercampur rindunya hati ini
Ingin ku memeluknya kembali
Dicium kening olehnya kembali dan berpegan tangan yang erat kembali
Duduk tentram di bawah naungan sang dewi bulan nun sempurna
Dan mulai berpadu kasih saying bersamanya kembali

Tak terasa kini dewi malam bergelut dengan setan malam yang terselubung dalam egoisnya harapku ini.
Terdengar lagi bisikan “kau harus tetap menjaga cinta yang kokoh itu.Kau harus tetap menyayangi cintamu,mengasihi cintamu dengan air mata pengorbananmu itu.Ingat ketika kau menatapku dengan senyuman,dan saat ketika kau bersamanya” kini sang dewi berujar
Namun tetap saja rasa-rasanya semua tak akan semudah memetik bunga
Tak semudah membuang air dengan percuma
Dan tak semudah menggayungi air di sumur

Kalau-kalau diriku bernasib baik
Semua mimpi-mimpi indah itu akan selalu menemani malamku
Selamanya membuatku tersenyum ketika melihat sang dewi purnama muncul
Dan selamanya bermimpi indah dengan bersandang nyata

Kalau-kalau bernasib buruk
Semuanya akan menjadi mimpi buruk di tiap malamku
Seakan semua mimpi itu terus menerus tak akan menjadi nyata
Dan selamanya berteman dengan setan malam yang tertawa