Dimanja akan kata manis yang terbilang persetan untuk ukuran yang menyuapi terus-menerus
Dengan hanya melihat jawaban atas hasil di akhir cerita hidupku
Semua yang terbilang indah mulai menggelantungi rasa pahit di tiap ku menghela nafas
Hujan mulai menetesi wajahku yang menyamarkan hembusan air mata yang mulai berjatuhan
Yang mulai turun dari perasaan yang kesekian kali meluap-luap seperti luapan kemarahan gunung berapi
Diriku yang berpikir bahwa sebenarnya kita memotong sejarah kehidupan nanti
Hanya dengan sekedar tak mencintai siapapun
Tak ingin menghargai siapapun
Tak ingin menolong siapapun
Tak ingin memandang keadaan siapapun
Entah sejak kapan ku memulai tuk menutup rapat mataku juga hatiku
Terhadap ketiadagunaan sikap dan tindak baik diriku
Terhadap semua yang telah kuberikan dengan genggaman tangan yang terkepal tulus
Karena semua yang kuperlihatkan,yang telah kuharuskan,dan yang kukorbankan
Karena memang tak ada orang perorangan yang melirik langkah hidupku
Karena semua tak menghormati jalan yang ingin kutempuh dan menyupport
Karena memang sosokku yang tak pernah dilihat kedua mata maupun satu mata dan mata tertutup
Semua menganggap segala tentangku salah
Dari mulai pendapatku,masalah yang sedang kutangisi,cara hidupku,segala yang kupahami,prinsip-prinsipku,hingga sifatku yang memang begini adanya
Semua menilaiku sebuah kesalahan yang berukuran tak kecil
Membuatku merasa terkucilkan bahkan seperti membunuh rasa percaya diri yang telah lama kubangun
ARIF ROHMAN - SOCIAL WORKER INDONESIA: MASYARAKAT: STRUKTUR SOSIAL
15 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar